Perbedaan Makna “Jurnalis” dan “Wartawan Profesional”

Menurut pemahaman Nuzul Akbar dalam tulisannya di kompasiana   sejatinya ada perbedaan mendasar dalam kedua hal ini. Seorang wartawan umumnya dengan mudah bisa membuat sebuah Jurnal, namun sebaliknya sekedar Penulis Jurnal belum tentu bisa menjadi seorang Wartawan Profesional. Masyarakat awam bisa saja menjadi Jurnalis. Karena untuk menjadi seorang Jurnalis tidak membutuhkan ID card dan siapa saja bisa menulis sebuah Jurnal -batasannya tidak jelas. Sebaliknya, Wartawan profesional haruslah punya ID karena bekerja mewakili ideologi korporasi tertentu. Bahkan lebih sahih bila institusinya terdaftar dalam Organisasi Profesi Kewartawanan -misalnya. Artinya… tanpa ID card atau tanpa surat keterangan tugas dari media bersangkutan maka bukanlah seorang wartawan profesional yg mewakili institusi tertentu. Pembuktian bisa koordinasi langsung dengan media bersangkutan. dan bila terbukti memakai identitas palsu maka bisa dikenakan pasal penipuan. Saya cukup miris membaca banyak Kompasioner yang membeberkan ‘fakta’ bahwa di daerah/pelosok ada ‘dalil biaya adm’ untuk jadi seorang wartawan, fee pembuatan ID card, tanpa gaji, dan harus membeli hasil cetak dalam jumlah oplah tertentu. Fenomena ini membuktikan bahwa kredibilitas media tersebut buruk. Karena sampai saat ini  tidak ada aturan baku dan kode etik jurnalistik yang membuat kejanggalan seperti itu. Dan lagi, “oknum” dalam profesi apapun pasti saja ada. Kl memang Anda ingin jadi wartawan maka haruslah ‘pintar’ agar tidak terjebak dalam situasi seperti ini. Dan, masyarakat luas jg harus cerdas, jangan mudah percaya atau gampang di takut-takuti, serta selektif menilai mana media yg kacangan dan tidak.

redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *