Ahmad Yani : Soal Penggerebekan Kasus Narkoba, Tidak Benar Warga Kr Cemes Sandera Polisi

bakinnews.com. Warga dan anak-anak Kr Cemes Lingkungan Surya Bakti, Kelurahan Pekat, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa, sempat ketakutan ketika mendengar letusan senjata petugas Kepolisian Polres Sumbawa yang melakukan penggerebekan

 

Tidak ada penghadangan oleh warga Kr Cemes terhadap aparat Kepolisian saat melakukan penggerebekan terkait kasus Narkoba.

Ahmad Yani (36), Tokoh Masyarakat Kr Cemes Lingkungan Surya Bakti, Kelurahan Pekat, Kecamatan Sumbawa, Kabupaten Sumbawa membenarkan hal tersebut. Menurutnya, tak ada masyarakat yang menghalang-halangi tugas Polisi.

” Tidak ada yang menghalang-halangi, apalagi menyandera aparat Kepolisian dalam melaksanakan tugas. Saya yakin, masyarakat mendukung seratus persen tindakan Polisi memberantas Narkoba. Karena kita semua sadar, itu merusak generasi bangsa ini,” beber Yani di Sumbawa, Kamis (12/4/2018).

Sebelumnya, Senin (9/4/2018) pihak Polres Sumbawa melakukan penggerebekan terhadap bandar Narkoba di Kr Cemes. Namun situasi memanas, dan terjadi kericuhan antara aparat dengan warga.

Peristiwa tersebut sempat menjadi pemberitaan media lokal. Disebutkan, bahwa warga menyandera pihak Kepolisian yang sedang bertugas.

Hal tersebut dibantah Yani. Ditegaskannya, pemberitaan tersebut “TIDAK BENAR !”

 

” Waktu itu, ada suara tembakan yang dilepaskan oleh aparat Kepolisian tersebut. Masyarakat yang lihat kejadian, minta agar Polisi tidak melepaskan tembakan beruntun begitu saja, karena khawatir banyak anak kecil,” ungkapnya.

Kejadian tersebut, lanjut Yani, sempat membuat warga panik. Saat itu imbauan masyarakat bahkan tidak digubris sama sekali oleh aparat Kepolisian.

” Kalau tidak ada tembakan beruntun, suasana tidak akan gaduh. Saat itu, kami takut, tidak ada rasa aman. Masyarakat seperti kami ini tidak mungkin menghalangi Polisi. Dari kejadian ini khawatir juga anak-anak trauma,” jelasnya.

Menurut kesaksian warga lainnya, H Abdul Mukti (40), saat itu dirinya ikut coba mengendalikan suasana warga yang gaduh dan panik.

” Saya bilang, saya yang akan mati duluan jikalau bapak-bapak Polisi diganggu sama masyarakat. Dan masyarakat di sini mendengar. Kenapa? Karena saya orang tua,” tandas Mukti.

Kesaksian juga disampaikan Dedi Prawira Negara (40), Tokoh Pemuda setempat. Dedi menuturkan, bahwa masyarakat tidak pernah sama sekali menyandera aparat yang sedang menjalankan tugas. Pihaknya khawatir ada peluru nyasar.

” Kami benar-benat khawatir akan kejadian tersebut. Tembakan itu bisa nyasar, maka kami memohon supaya jangan melepaskan tembakannya lagi, karena banyak anak kecil dan orang tua,” ujarnya.

Bahkan dijelaskan Dedi, penyakit asma yang diderita anaknya yang masih kecil sempat kambuh mendengarkan letusan tersebut. Penyebabnya, rumahnya hanya berjarak dua rumah dari lokasi kejadian.

Dilain sisi, Yani, berharap, pihak Kepolisian segera melakukan komunikasi agar masyarakat tidak trauma dan ketakutan.

” Kami berharap ada kunjungan dari Kepolisian untuk bersilaturahmi dengan masyarakat di sini, biar tidak takut lagi dengan kejadian kemarin. Kami ini masyarakat harus diayomi,” harapnya.

Sumber : IMO Ind – Jayantara

Tinggalkan Balasan