PERISTIWA TRAGIS SANG PAWANG MEREGANG NYAWA DITERKAM SANG MACAN

Peristiwa ini merefleksikan kehidupan sang pawang yang penuh dengan kejadian  tak terduga dan  beresiko tinggi sekaligus penuh dengan “dilema” karena tugas  merawat sang macan bukanlah hal yang mudah untuk  dilakukan terlebih dalam jumlah yang banyak.  Macan adalah tetap macan makhluk buas yang memiliki kemampuan memburu serta  naluri membunuh sekalipun sang pawang telah merawatnya dengan penuh kasih dan sayang ,memberinya makan dan minum,  menyediakan tempat tinggal untuk  bernaung ,  mengajarkan perilaku-perilaku yang  baik  dan tak luput masalah  kesahatannya pun  selalu mendapat perhatian serius,  namun maut selalu mengintai sang  pawang.    Singkat cerita sang pawang mengerahkan segenap kemampuannya untuk  merawat sang macan hingga rela berada jauh dari sanak keluarga yang dikasihinya  demi sang macan.   Semula sang macan  yang “dititipkan” di kediaman sang pawang   tampak mulai “jinak” dan menyenangkan sehingga membuat orang-orang disekitarnya  tidak takut untuk mendekatinya. Dia “mengaum” dengan lembut  serta sesekali bertingkah manja pada sang pawang  seraya terlihat begitu menggemaskan. Inilah fase “krusial” dimana sang pawang mulai terlena dan terbuai  serta  beranggapan bahwa sang macan yang dirawatnya  sudah dapat dijinakkan terlebih sang macan berada dalam ruang lingkup kediaman sang pawang  sehingga sang pawang lengah dan bahkan tanpa sadar telah mencoret kalimat  “kewaspadaan tingkat dewa” dalam daftar petunjuk “super maximum security” menjadi kalimat “waspada” saja.  Pada titik inilah sebenarnya kediaman  sang pawang telah berpindah tangan menjadi “kediaman milik sang macan ” ini tidak tertulis namun tersirat dan itu realitanya.  Perlahan namun pasti sang pawang mulai kehilangan “tongkat kendali” atas diri sang macan dan sebaliknya sang macan mulai menunjukkan taringnya .  Pada moment inilah tergambar jelas  dua hal penting yang dilupakan oleh sang pawang   pertama bahwasannya sang macan  adalah sangat berbahaya dan mematikan karena sang macan dapat dengan cepat beradaptasi terhadap lingkungan sekitarnya dan yang kedua  sang macan  memiliki miltansi yang sangat kuat dalam rangka mempertahankan keberlangsungan hidup dan eksistensinya.   Kita pasti sudah  mendengar dan menyaksikan  melalui media audio maupun visual   kejadian tragis menimpa  sang pawang yang  meregang nyawa ditangan sang macan dan yang lebih menyedihkan lagi sang pawang  terbujur kaku tak bernyawa  ditempat kediamannya sendiri   bahkan sebelum sang pawang menemui ajalnya , tubuhnya mengalami penyiksaan diluar batas kewajaran.   Ironis memang namun itulah yang terjadi. Kejadian ini harusnya disadari betul oleh  sang pawang bahwasannya sang macan adalah makhluk hidup yang buas  yang sewaktu waktu dapat mengancam keselamatan jiwa, untuk itu dibutuhkan kewaspadaan tingkat “dewa”dari sang pawang.  Merawat sang macan sangatlah berbeda dengan merawat  kucing,  sang macan memiliki insting liar yang sulit untuk dijinakkan  terlebih jika sang macan telah di “indoktrinasi” selain itu dia juga memiliki nafsu makan yang “mewah” bahkan sang macan tidak peduli jika sewaktu-waktu menyerang dan mecabik-cabik sang pawang yang telah merawatnya  demi memenuhi hasratnya.  Oleh karenanya  merawat  sang macan bukannlah pilihan yang baik dan tepat bahkan merupakan pilihan yang sangat buruk dan berbahaya bagi sang pawang maupun lingkungan sekitarnya .  Apapun dalilnya merawat sang macan sungguh berbahaya.  Namun rupanya sebahagian dari kita tidak belajar dari kenyataan itu. Alih-alih menghindari hal yang sama justru sebahagian dari kita mengulang kesalahan yang sama, ibarat pepatah “terjerembab pada lubang yang sama” yaitu tetap  merawat sang macan tanpa memperhatikan daftar petunjuk “super maximum security”.  Tidak dapat dipungkiri memelihara  sang macan dengan tujuan tertentu  banyak dilakukan oleh pelbagai pihak diberbagai belahan dunia     sang macan peliharaan biasanya  didayagunakan dalam aksi-aksi  tertentu yang tidak bisa dilakukan secara langsung oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Adapun tujuan mendayagunakan kemampuan  sang macan oleh pihak-pihak yang berkepentingan  dimaksudkan agar kegiatan aksi-aksi tertentu  itu, dapat terlaksana dengan baik dan serta menjaga tangan mereka agar selalu tetap  bersih. Sebelum melakukan aksinya sang macan peliharaan lazimnya  disuguhkan makanan mewah serta ditunjang dengan  fasilitas ala “james bond” dan  diberi pengarahan bahkan mungkin dilakukan “brainwashing” . Ketika tiba saatnya sang macan mulai bertingkah layaknya “king of the jungle” banyak tempat menjadi sasaran amukannya  bahkan banyak  korban  berjatuhan serta intimidasi terjadi diberbagai tempat   dan sejurus kemudian jerit tangis dari keluarga korban terdengar begitu memilukan bahkan menghujam lubuk hati yang terdalam. Demi memulihkan keadaan,  pihak  berwenang  bergerak cepat dengan menerjunkan para pawang yang memiliki kualifikasi “super pawang” memburu sang macan hingga ke lubang-lubang persembunyiannya.  Inilah arti dilema yang sebenarnya dari kehidupan sang pawang di satu sisi sang pawang  harus memburu dan menangkap sang macan baik dalam keadaan hidup maupun mati  dan di sisi yang lain sang pawang harus merawat sang macan walaupun nyawa taruhannya.  Namun sangat disayangkan sering kali  pihak berwenang  beserta sang  pawang tidak serta merta dapat menangkap sang macan,  sehingga dengan leluasa sang macan terus  melakukan aksinya sesuai pesanan.  Di lain pihak  keberhasilan sang macan dalam melakukan aksi-aksi brutalnya adalah kabar gembira bagi pihak-pihak “berkepentingan” yang memelihara  sang macan.  Tetapi ketika sampai pada tahap tertentu pihak-pihak “berkepentingan” yang dulu memelihara sang macan mulai khawatir dan mengalami kesulitan mengendalikan sang macan   karena sekarang sang macan sudah lebih pandai dari pihak-pihak “berkepentingan” yang dulu memeliharanya.  Ini menjadi bukti bahwa sang macan adalah makhluk liar nan buas yang sulit dijinakkan apalagi ditundukkan terlebih tidak ada toleransi bagi sang macan ketika menganggap dirinya penguasa “kebenaran” maka yang berbeda dengannya pasti “salah” karena kebenaran telah menjadi monopoli SANG MACAN.

(114.117.007.10 – Philiphosis boniek Hallan)